Recent Posts

Serangga Datang Sendiri Saat Lampu Bercahaya #1

7/19/2004
yaheline

Pagi itu, seperti pagi-pagi lainnya, saya datang ke sekolah dengan membawa beberapa lembar materi yang harus disampaikan. Udara masih menyimpan sisa dingin malam. Di sepanjang koridor, suara langkah para siswa berbaur dengan bunyi kursi yang digeser dan percakapan kecil tentang tugas yang belum selesai. Kehidupan sekolah bergerak dengan caranya sendiri, sederhana, riuh, dan tidak pernah benar-benar berhenti.

Saya berjalan menuju ruang kerja ketika seorang siswa memanggil dari belakang.

“Boleh nanya gak, Pak?”

Saya menoleh. Wajahnya menyimpan kesungguhan yang agak lucu, seperti seseorang yang sedang membawa pertanyaan penting tetapi belum menemukan cara yang tepat untuk mengatakannya.

“Why not, what do you want to know?”

“Waduh, Pak. Bahasa Indonesia aja, dong.”

Baca juga: Ketika daun berwarna coklat itu jatuh

Kami tertawa. Percakapan itu kemudian berlanjut dengan pertanyaan yang membuat saya terdiam sejenak. Ia ingin tahu mengapa banyak siswi sering datang ke ruangan saya. Mengapa mereka senang bercerita, duduk berlama-lama, dan merasa nyaman berada di sana.

Saya mengajaknya masuk. Ruangan berukuran tiga kali delapan meter itu masih sama seperti kemarin: meja kerja, kursi, dispenser, dan cahaya matahari yang jatuh melalui jendela. Saya menawarkan minum. Ia menolak, lalu justru mengambilkan air untuk saya. Setelah beberapa jam menjelaskan materi baru di kelas, segelas air terasa seperti sebuah kemewahan kecil.

Saya meneguknya perlahan.

Ada sesuatu yang menarik dari percakapan semacam ini. Seorang anak datang membawa rasa ingin tahu, sementara saya, yang merasa sudah cukup lama menjalani hidup, mendapati diri sendiri sedang belajar kembali tentang cara manusia memandang manusia lain. 

Baca juga: Eduwisata SkyWorld TMII Merasa Seperti di Luar Angkasa

Saya mengatakan kepadanya bahwa saya tidak mempunyai rahasia apa-apa. Saya hanya berusaha menjadi guru yang bisa dipercaya. Ketika siswa datang, saya mendengarkan. Cerita tentang orang tua, pertemanan, pelajaran, atau hal-hal yang belum mereka pahami tentang diri sendiri. Kadang, yang dibutuhkan seseorang bukan jawaban yang cemerlang, melainkan tempat untuk meletakkan pikirannya sejenak.

Kemudian mata saya tertuju pada lampu di langit-langit.

“Kamu pernah memperhatikan lampu saat malam?”

Ia mengangguk.

“Pernah lihat serangga datang mendekati lampu yang menyala?”

Ia tertawa kecil. Mungkin ia mulai memahami arah pembicaraan kami.

Saya lalu membayangkan malam yang sunyi. Sebuah rumah dengan jendela terbuka. Di dalamnya, lampu menyala dengan tenang, sementara di luar, sayap-sayap kecil bergerak menuju sumber cahaya. Lampu itu tidak pernah berteriak memanggil siapa pun. Ia hanya menyala. Kehadirannya cukup untuk membuat sesuatu yang jauh merasa tertarik mendekat.

Di situlah saya menemukan analogi yang terasa lebih luas daripada pertanyaan anak itu.

Barangkali kehidupan manusia juga demikian. Kita sering mengira bahwa agar disukai, kita harus tampil sebaik mungkin di hadapan orang lain. Kita mengejar perhatian, menyusun kata-kata, memperlihatkan keberhasilan, atau berusaha menjadi seseorang yang tampak menarik. Namun, semakin saya menjalani hari, semakin saya memahami bahwa sesuatu yang benar-benar bernilai tidak selalu perlu diumumkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar