Pagi yang Berdebar di Soekarno-Hatta
Hari pertama perjalanan kami dimulai sebelum Jakarta benar-benar terjaga. Pukul 07.00 kami sudah berkumpul di Palmeera Lounge, Terminal 2F, Bandara Soekarno-Hatta. Cahaya pagi menyelinap lewat dinding kaca yang tinggi dan jatuh di lantai yang mengkilap, di antara deretan koper yang berbaris rapi. Ruang tunggu sudah ramai oleh jamaah yang datang membawa koper dan tas masing-masing. Mereka saling menyapa dengan senyum yang sama gugupnya, dengan wajah yang sulit menyembunyikan haru.Aku dan my sweety duduk di salah satu sudut premium airport lounge dengan konsep buffet menikmati sarapan ringan.
“Deg-degan nggak?” tanyaku sambil tersenyum.
My sweety mengangguk pelan. “Banget. Ini perjalanan paling jauh yang pernah kita lakukan.”
Kalimat itu membuat kami sama-sama terdiam beberapa saat. Rasanya masih sulit percaya bahwa hari itu akhirnya tiba. Selama ini kami hanya membayangkan bagaimana rasanya melaksanakan umroh, ibadah yang sering disebut sebagai “haji kecil”. Kini kami benar-benar akan memulainya. Untuk perjalanan penuh makna ini, kami mempercayakan langkah kami bersama Alhijaz Tour & Travel, yang mendampingi perjalanan ibadah kami menuju Tanah Suci.
Doa Sebelum Lepas Landas
Setelah menyerahkan koper dan menerima id card, seluruh jamaah mengikuti pengarahan sekitar pukul 08.00. Paspor dan boarding pass dibagikan satu per satu, dan tiap lembarnya terasa seperti tiket menuju sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar perjalanan. Lalu doa pelepasan dimulai. Ruangan yang tadinya riuh mendadak hening; yang terdengar hanya lantunan doa dan aamiin yang bersahutan, dan di antaranya ada mata-mata yang mulai basah.“Aku merinding,” bisik my sweety pelan.
Aku mengangguk sambil menatap ke depan. Dalam hati aku juga merasa sangat bersyukur karena Allah memberikan kesempatan, kesehatan, dan rezeki sehingga kami bisa menjadi tamu-Nya di Tanah Suci. Betapa banyak orang yang merindu, tetapi belum dipanggil. Kami tahu betul bahwa ini bukan karena kami layak, melainkan karena Allah berkenan.
Langit Menuju Madinah
Setelah proses imigrasi selesai, kami menuju ruang tunggu bandara. Menjelang siang, sekitar pukul 12.00, kami boarding menggunakan pesawat Saudia Airlines SV 821 menuju Madinah.Baca juga: Monolog di Ruang Kedap Suara
Saat pesawat mulai lepas landas dan tanah air perlahan mengecil di balik jendela, my sweety menggenggam tanganku erat. Bibir kami bergerak melafalkan doa safar:
سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ
Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sungguh kepada Tuhan kamilah kami akan kembali (QS. Az-Zukhruf: 13–14).
“Kita benar-benar berangkat…” katanya sambil tersenyum haru.
Di sepanjang penerbangan kami lebih banyak menikmati perjalanan sambil sesekali melihat awan dari jendela pesawat, hamparan putih tak berujung di bawah langit yang biru. Berjam-jam kami melintasi benua dan lautan menuju kota yang selama ini hanya hadir dalam doa. Perjalanan panjang terasa berbeda karena hati kami dipenuhi rasa syukur dan bahagia.
Menjelang malam, sekitar pukul 17.25 waktu setempat, kami tiba di Bandara Muhammad Abdul Aziz Madinah. Jam di tangan kini mundur empat jam dari Jakarta. Begitu keluar dari bandara, aku menarik napas panjang, seakan ingin menyimpan udara kota ini dalam ingatan.
“Ini Madinah…” ucapku perlahan.
My sweety hanya tersenyum sambil menatap sekeliling dengan mata berbinar.
Cahaya Pertama Nabawi
Perjalanan dilanjutkan menuju Odst Al Madinah Hotel hingga akhirnya sekitar pukul 19.50 kami check in dan beristirahat sejenak. Meski tubuh lelah, hati rasanya justru semakin tenang.Baca juga: Solilokui, Bebas dari Belenggu Materi
Malam itu kami berjalan menuju Masjid Nabawi untuk melaksanakan sholat berjamaah dan memperbanyak ibadah sunnah. Jalanan kian ramai oleh jamaah yang bergerak ke arah yang sama, tanpa tergesa. Saat pertama kali melihat masjid itu dari dekat, kami spontan berhenti beberapa detik. Menara-menara menjulang tersiram cahaya keemasan, pelataran marmer terhampar luas, dan di bawahnya orang-orang dari segala penjuru dunia melangkah masuk dengan wajah teduh.
“MasyaAllah… indah sekali,” bisik my sweety.
Aku hanya mampu tersenyum sambil mengucap syukur dalam hati. Di masjid inilah Rasulullah ﷺ bersabda bahwa satu sholat di dalamnya lebih utama daripada seribu sholat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram. Betapa mahal setiap rakaat yang malam itu kami tunaikan.
Malam pertama di Madinah terasa begitu damai. Di tempat suci itu kami sadar bahwa perjalanan panjang perdana ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan perjalanan iman yang akan selalu kami kenang sepanjang hidup.
Ya Allah, terimalah langkah-langkah kecil kami, dan jadikan ia pembuka bagi kedekatan yang lebih panjang dengan-Mu dan Rasul-Mu ﷺ.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar