Recent Posts

Monolog di Ruang Kedap Suara

9/18/2026
Yaheline

Orang-orang lemah membiarkan emosinya terlihat. Orang yang cerdas tahu kapan harus menyembunyikan dan di mana harus membuangnya.

Kalian pikir aku tidak merasakan apa-apa. Menggelikan. Aku merasakan segalanya. Bedanya, aku tidak sebodoh itu untuk membiarkan orang lain melihatnya. Memendam emosi sampai membusuk di dalam? Itu bukan kekuatan, itu kebodohan yang dibungkus dengan kata "tabah." Tubuh yang diam-diam berperang melawan dirinya sendiri bukan pengorbanan, itu manajemen yang buruk.

Jadi aku punya sistem. Bukan ritual, bukan curahan hati kekanak-kanakan, tapi sistem.

Setiap malam, aku menulis. Bukan untuk "melepaskan beban," seperti yang dikatakan orang-orang naif itu. Aku menulis karena pengolah kata adalah satu-satunya pihak yang tidak bisa kupakai untuk menyerangku kembali di kemudian hari. Apa yang tidak diucapkan, tidak bisa dijadikan senjata.

Baca juga: Melangkahlah dengan Ilmu, Anakku

Lalu musik. Bukan untuk menghibur diri, musik adalah katup tekanan. Aku memilih lagu yang tahu persis di mana letak titik didihku, memutarnya sampai emosi itu keluar seluruhnya, lalu kumatikan. Rapi. Terkendali. Tidak ada yang menyaksikan versiku yang berantakan, karena versi itu tidak pernah diizinkan hidup lebih dari satu lagu.
Kalau itu belum cukup, aku hancurkan sesuatu yang pantas dihancurkan, lari sampai paru-paru memberontak, memukul sampai lenganku gemetar. Orang-orang menyebutnya olahraga. Aku menyebutnya pembersihan. Endorfin bukan obat penenang bagi orang lemah, itu alat bagi orang yang tahu bahwa amarah, jika tidak dikeluarkan, akan mencari jalan keluarnya sendiri. Dan percayalah, kau tidak mau tahu jalan keluar seperti apa yang dipilihnya.

Baca juga: Berpikir Komputasional di Dunia Kerja, Biar Kerja Nggak Ambyar!

Dan di penghujung malam, ketika semua topeng sudah kulepas satu per satu, aku bicara pada Yang Tak Kelihatan. Bukan pertunjukan, bukan basa-basi sopan. Doa adalah satu-satunya percakapan di mana aku boleh benar-benar telanjang, tanpa dijawab dengan kalimat, "kamu terlalu sensitif."

Jadi ya — aku baik-baik saja.

Bukan karena aku tak pernah hancur. Tapi karena aku sudah lama belajar: kehancuran yang tidak terlihat, tidak bisa dimanfaatkan siapa pun untuk melawanmu.

Dan itu, adalah bentuk kendali yang sesungguhnya.

AUDIO Yahe's Song: Baik Baik Saja.mp3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar