Recent Posts

Kebun Teh Panama Dieng, Hijau yang Menghangatkan

8/17/2026
Yaheline

Pagi itu kami berangkat dari Camelia Homestay yang nyaman di kawasan Titik Nol Dieng, menyusuri jalan berkelok sejauh kurang lebih 20 kilometer—sekitar 40 menit perjalanan—menuju Dusun Tempuran, Desa Tlogo, Kecamatan Garung, Wonosobo, tempat Kebun Teh Panama bersembunyi di lereng Gunung Sindoro pada ketinggian 1.200 mdpl. Kabut tipis masih bergelayut di lereng ketika kami tiba. 
Udara pegunungan menusuk pelan, membawa aroma tanah basah dan daun teh yang baru disentuh embun pagi. Di hadapan kami, hamparan Kebun Teh Panama terbentang bagai permadani hijau tak berujung—bergelombang mengikuti kontur bukit, berkilau lembut setiap kali cahaya matahari menembus celah kabut.
Ada pemandangan yang dilihat mata, dan ada pemandangan yang dirasakan dada. Pagi itu, keduanya bertemu di satu tempat yang sama.
Saya berdiri sejenak, menatap semua itu, dan dada ini penuh oleh rasa syukur yang sulit diucapkan. Tuhan masih memberi kesempatan—kesempatan sederhana namun begitu berharga: berdiri di sini, bersama my Sweety berjalan bersisian, serta Raffi dan Fathan, dua remaja kami yang kini tertawa riang berlarian menyusuri jembatan kayu yang membelah kebun.


Jembatan itu berderit pelan setiap kali diinjak, seolah ikut bernyanyi bersama angin yang menyapu pucuk-pucuk teh. Fathan berhenti, menunjuk ke arah kabut yang menari di kejauhan. Raffi tertawa, mengabadikan momen itu dengan kameranya. Sweety hanya tersenyum ke arah saya—senyum yang selalu berhasil membuat waktu terasa berhenti sejenak.




Angin pegunungan berhembus lagi, membawa dingin yang menembus jaket, namun anehnya terasa menghangatkan hati. Ia seperti irama yang mengalun tanpa suara, mengantar doa syukur kami yang tak terucap namun terasa begitu nyata—doa seorang ayah yang bahagia karena keluarganya masih lengkap, masih bisa tertawa bersama, masih bisa berjalan berdampingan di tanah yang begitu indah ini.
Senja mulai turun perlahan, memantulkan warna keemasan di antara barisan pohon teh. Kami berjalan pulang dengan langkah pelan, tak ingin buru-buru mengakhiri hari yang begitu penuh berkah ini. Panama Dieng bukan sekadar destinasi—ia adalah kenangan yang akan selalu hangat, tersimpan abadi dalam hati kami sekeluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar