Fajar baru saja merekah ketika kami tiba di kawasan Candi Borobudur. Untuk menjaga udara pagi tetap bersih dan steril dari polusi, kami menaiki kendaraan ramah lingkungan, Shuttle Wira Wiri, yang mengantar kami dengan tenang dari gerbang utama menuju area dalam.
Sebelum melangkah menuju struktur utama, kami diarahkan ke area aula di Marga Utama untuk mengganti alas kaki kami dengan Sandal Upanat. Jalinan anyaman pandannya yang ringan terasa begitu ramah di kaki, sebuah tanda penghormatan kecil dari kami untuk ikut menjaga dan melindungi kelestarian batu-batu purbakala yang akan kami daki nanti.
Tepat saat melangkah keluar dari aula Marga Utama, kami disambut oleh Mas Adam, pemandu wisata keluarga kami hari itu. Pria ramah dengan pengetahuan yang mengalir setenang aliran Sungai Progo ini tersenyum hangat, menyapa kami sebelum bersama-sama berjalan menuju struktur megah di depan mata.
Tepat saat melangkah keluar dari aula Marga Utama, kami disambut oleh Mas Adam, pemandu wisata keluarga kami hari itu. Pria ramah dengan pengetahuan yang mengalir setenang aliran Sungai Progo ini tersenyum hangat, menyapa kami sebelum bersama-sama berjalan menuju struktur megah di depan mata.
Sering kali, perjalanan terbaik bukan tentang seberapa cepat kita sampai di puncak, melainkan tentang bagaimana kita mempersiapkan hati pada setiap langkah awal yang kita pijak.Kabut tipis masih menggantung di antara balok-balok batu purbakala ketika kami tiba di pelataran itu, seolah menjaga rahasia berabad-abad yang belum selesai diceritakan. Di kejauhan, Merapi berdiri gagah, bersanding dengan lekuk anggun Merbabu, sementara garis hijau Bukit Menoreh memeluk cakrawala dengan tenang. Saya, My Sweety, dan dua putra remaja kami—Raffi dan Fathan—berdiri terpaku, membiarkan keheningan pagi itu menyapa jiwa lebih dulu sebelum langkah kami menyapa tangga batu.
"Mari saya antar naik, sekaligus saya ceritakan maknanya," kata Mas Adam memulai bimbingannya mendaki dari Kamadhatu, tingkat paling bawah. "Di sinilah relief-relief panjang ini bercerita tentang nafsu dan godaan dunia," jelasnya sambil menunjuk ukiran demi ukiran. "Setiap orang, sehebat apa pun cita-citanya, harus melewati tingkat ini dulu—mengenali diri, mengendalikan keinginan, sebelum melangkah naik." Raffi dan Fathan mendengarkan dengan saksama, sesekali bertanya, sesuatu yang jarang kulihat belakangan ini. Sebelum beranjak, kami menyempatkan diri berpose bersama dengan latar belakang relief Kamadhatu yang sarat makna.
Puncaknya, Arupadhatu menyambut kami dengan stupa-stupa berjejer melingkar, lapang tanpa ukiran, tanpa rupa. Mas Adam berhenti di sana, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada kata-katanya. "Inilah tujuan akhir—dunia tanpa rupa, tempat ego dan keduniawian sirna," ujarnya pelan. Sambil memandang hamparan lanskap magis dari puncak tertinggi, kami mengambil foto keluarga terakhir kami di atas candi, mengunci kenangan kebersamaan ini dalam bingkai gambar. Aku menatap Raffi dan Fathan, lalu menambahkan dengan suara lirih: "Hidup itu seperti tangga ini, Nak. Kesuksesan tak datang instan—ia butuh proses, kesabaran, dan perjuangan dari bawah."
Senja mulai turun saat kami melangkah pulang. Borobudur tetap berdiri kokoh di belakang kami, namun maknanya kini tersimpan di dalam hati—empat hati yang pulang membawa kedamaian yang sama.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar