Perjalanan pagi itu dimulai dari pelataran Candi Arjuna, kompleks candi Hindu peninggalan abad ke-8 yang berdiri sunyi diselimuti kabut dan padang rumput basah embun. Kami berempat—Saya, My Sweety, dan dua putra remaja kami, Raffi dan Fathan—sejenak menapaki jejak sejarah di sana sebelum melanjutkan perjalanan sejauh sekitar dua kilometer ke arah Batu Pandang Ratapan Angin, tempat yang namanya sendiri seperti puisi: tiupan angin pegunungan yang melewati celah-celah bebatuan menghasilkan bunyi mendesis atau mendayu-dayu. Jalan menanjak berkelok yang kami lalui seolah menjadi jembatan antara masa lalu yang megah dan panorama alam yang menanti di depan.
Perbukitan hijau membentang seperti selimut raksasa, memeluk cekungan tempat dua telaga bersanding—Telaga Warna dan Telaga Pengilon. Dari kejauhan, keduanya tampak seperti dua lukisan yang sengaja digantung berdampingan: yang satu berpendar hijau toska, memantulkan belerang dan cahaya matahari pagi; yang lain bening bagai cermin, setia menyalin wajah langit tanpa cela.
Angin berembus di sela bebatuan, mendesau lirih seperti nyanyian yang tak pernah selesai—itulah barangkali asal nama tempat ini. Bukan ratapan kesedihan, melainkan desah syukur yang dititipkan alam kepada siapa saja yang mau berhenti sejenak dan mendengarkan.
Di tempat ini, syukur tak selalu perlu kata—kadang ia cukup didengar lewat desau angin dan digenggam lewat jemari orang-orang terkasih.Raffi menggenggam tanganku, Fathan merangkul pundak Bundanya. Kami berdiri berjajar di titik tertinggi, memandang ke bawah, ke arah dua telaga yang tenang itu. Tak ada yang perlu diucapkan. Kebahagiaan kadang memang tak butuh kata—cukup digenggam, dibagi dalam diam, dan dibiarkan tumbuh semakin dalam di antara kami berempat.
Petikan angin di sela batu itu terus terngiang, mengantar damai yang kami bawa pulang. Dieng, dengan segala kabut dan keheningannya—dari Candi Arjuna hingga Ratapan Angin—kini abadi dalam kenangan keluarga kami. Dan syukur, seperti telaga yang tak pernah kering, akan selamanya menjadi pegangan.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar