Kabut belum sepenuhnya sirna ketika kami tiba di Pintu Langit Dieng. Cahaya pagi menyusup pelan-pelan, membelah kabut menjadi berkas-berkas keemasan yang jatuh di atas gardu pandang. Saya, My Sweety, dan dua putra remaja kami, Raffi dan Fathan, berdiri di ambang ketinggian itu, menatap sesuatu yang jarang bisa dijelaskan dengan kata: lautan awan yang membentang sejauh mata memandang, seolah bumi dan langit sengaja bertukar tempat.
Ada kalanya semesta membuka pintunya hanya untuk mengingatkan betapa kecilnya diri di hadapan kebesaran-Nya—dan betapa besar syukur yang seharusnya dipanjatkan karenanya.Kami melangkah menyeberangi jembatan kaca yang dirancang berupa anjungan dengan kerangka yang kokoh, menjorok langsung ke arah tebing yang dalam. Empat langkah, satu keberanian—jembatan kaca kami titi tanpa rasa gentar, seolah lintasan ini adalah cerminan dari perjalanan keluarga kami sendiri: sebuah ruang bening tanpa rahasia yang membebaskan tiap individu melangkah di jalurnya dengan passion masing-masing, namun selalu dipeluk erat oleh rasa syukur yang mewujud jadi fondasi saling menguatkan.
Baca juga: Pamungkas Bali, Sajian Ikan Bakar dan Sup Kepala Ikan Warung Be Sanur yang Tak Terlupakan
Di Taman Langit, pemandangan berubah lagi. Gunung Sindoro berdiri megah di kejauhan, kepalanya setengah tersembunyi di balik selimut awan putih, seperti raksasa yang sedang bermenung dalam damai. Angin sejuk pegunungan menyapu wajah kami satu per satu, membawa aroma tanah basah dan dingin yang menembus kulit.
Kami berdiri bersisian sejenak di tepi gardu, tak banyak bicara. Kadang, keindahan sebesar ini justru membuat lidah kelu—dan hati yang berbicara menggantikannya. Saya pandang My Sweety, lalu kedua putra kami yang kini mulai beranjak dewasa, dan menyadari betapa cepat waktu berlalu di tengah keabadian alam seperti ini.
Dari ketinggian itu, langit terasa begitu dekat, seakan bisa disentuh oleh doa. Pintu Langit dan Taman Langit bukan sekadar nama tempat—keduanya menjadi titik di mana keluarga kami berhenti sejenak untuk memandang semesta, lalu pulang membawa satu kehangatan yang melekat: bahwa memiliki mereka adalah bentuk syukur paling nyata, yang sekaligus menjelma menjadi kekuatan untuk saling menopang sepanjang usia.
Baca juga: Oleh-Oleh Krisna, Saatnya Belanja Kalap
Dari ketinggian itu, langit terasa begitu dekat, seakan bisa disentuh oleh doa. Pintu Langit dan Taman Langit bukan sekadar nama tempat—keduanya menjadi titik di mana keluarga kami berhenti sejenak untuk memandang semesta, lalu pulang membawa satu kehangatan yang melekat: bahwa memiliki mereka adalah bentuk syukur paling nyata, yang sekaligus menjelma menjadi kekuatan untuk saling menopang sepanjang usia.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar