Setelah Malam yang Panjang
Siang di Madinah datang dengan cahaya yang terang dan tenang. Semalam kami menghabiskan waktu di Masjid Nabawi hingga Subuh, dan pagi harinya kami beristirahat di hotel hingga waktu sholat Dzuhur. Meski tubuh masih lelah, ada ketenangan tersendiri yang tertinggal, seperti sisa hangat setelah doa yang panjang. Rasa syukur pun kembali mengalir: Allah memberi kami kesempatan menjalani umroh, sebuah perjalanan spiritual yang sekaligus menjadi pengalaman terpanjang perdana kami ke luar negeri.
Pukul 14.00, agenda City Tour Madinah dari Alhijaz Tour & Travel dimulai. Aku dan my sweety bersiap, dan aku memastikan semua barang bawaan sudah lengkap.
“Sudah siap menjelajahi Madinah hari ini?” tanyaku sambil memeriksa tas.
My sweety tersenyum. “Siap! Aku penasaran ingin melihat langsung tempat-tempat yang selama ini hanya kita kenal dari cerita sejarah Islam.”
Quba, Batu Pertama Peradaban
Tujuan pertama kami adalah Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun Rasulullah ﷺ setelah hijrah ke Madinah. Beliau singgah di Quba sebelum memasuki kota, lalu bersama para sahabat mendirikan masjid ini dengan tangan mereka sendiri. Kini bangunannya tampak anggun dengan halaman yang tertata rapi, dan para jamaah dari berbagai negeri melangkah masuk dengan khidmat.Kami menikmati suasana masjid sambil mengenang perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ. Dari bangunan sederhana yang dahulu berdiri di tengah perkebunan, tumbuhlah peradaban yang cahayanya menerangi dunia. Di sinilah aku merasa bahwa sejarah bukan lagi sekadar bab dalam buku, melainkan tanah yang bisa dipijak.
Dari sana, rombongan melanjutkan perjalanan melewati Masjid Jum’ah, tempat yang dikenang sebagai lokasi sholat Jumat pertama yang dilaksanakan Rasulullah ﷺ dalam perjalanan hijrah menuju Madinah.
Sepanjang perjalanan, Muthowif Ustad Abadi Nanjaya menjelaskan kisah-kisah yang melatarbelakangi setiap tempat, dan suasananya perlahan hidup di benak kami.
“Kalau hanya membaca buku, mungkin kita sulit membayangkan suasananya,” kataku kepada my sweety.
“Benar. Melihat langsung membuat sejarah terasa lebih dekat,” jawabnya.
Aku memandang hamparan bukitnya sambil merenungkan pelajaran tentang kesetiaan, ketaatan, dan keteguhan iman. Uhud mengajarkan bahwa satu kelalaian dalam menaati perintah bisa mengubah jalannya peristiwa, dan bahwa keteguhan hati para sahabat tetap menyala bahkan di saat paling berat. Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami mencintainya” (HR. Bukhari dan Muslim). Jika sebuah gunung saja mendapat cinta beliau, betapa besar kasih beliau kepada umatnya.

“Kalau hanya membaca buku, mungkin kita sulit membayangkan suasananya,” kataku kepada my sweety.
“Benar. Melihat langsung membuat sejarah terasa lebih dekat,” jawabnya.
Uhud, Gunung yang Mencintai Kita
Perjalanan berlanjut ke Jabal Uhud. Gunung yang membentang kokoh itu menjadi saksi Perang Uhud, salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam, ketika tujuh puluh sahabat gugur sebagai syuhada, di antaranya Hamzah bin Abdul Muththalib, paman Rasulullah ﷺ.Aku memandang hamparan bukitnya sambil merenungkan pelajaran tentang kesetiaan, ketaatan, dan keteguhan iman. Uhud mengajarkan bahwa satu kelalaian dalam menaati perintah bisa mengubah jalannya peristiwa, dan bahwa keteguhan hati para sahabat tetap menyala bahkan di saat paling berat. Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami mencintainya” (HR. Bukhari dan Muslim). Jika sebuah gunung saja mendapat cinta beliau, betapa besar kasih beliau kepada umatnya.

Manisnya Kurma, Malam di Nabawi
Menjelang sore, rombongan mengunjungi kebun kurma yang juga menjual berbagai oleh-oleh, seperti kurma, kismis, cokelat, dan produk zaitun. Madinah memang dikenal dengan kurmanya, termasuk kurma ajwa yang keutamaannya disebut dalam hadits Nabi ﷺ. Di sana, kami turut menghadiri perayaan milad Alhijaz Tour & Travel yang dilanjutkan dengan pengundian doorprize dan diakhiri dengan dengan makan malam ala Timur Tengah, Biryani Sharing Plate, satu nampan besar untuk empat orang. Suasana terasa meriah dan hangat setelah seharian menyusuri tempat-tempat bersejarah, dan wajah-wajah jamaah yang semula asing kini terasa akrab.
Malam harinya, kami kembali ke Masjid Nabawi untuk sholat fardhu berjamaah, memperbanyak ibadah sunnah, dan melanjutkan qiyamul lail. Di bawah cahaya lampu pelataran, sejarah yang siang tadi kami lihat seolah menemukan maknanya: bahwa semua pengorbanan itu bermuara pada iman yang kini kami tunaikan dengan tenang.
Baca juga: Malam Pertama di Madinah Terasa Begitu Damai
Hari ketiga pun menjadi kenangan berharga. Bagi kami, perjalanan ini bukan hanya tentang mengunjungi tempat-tempat baru, tetapi juga memahami sejarah, mempererat kebersamaan, dan mensyukuri kesempatan menjadi tamu Allah di Tanah Suci.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar