Recent Posts

Sukses Boleh Ngebut, Tapi Jangan Nabrak Perasaan Orang

11/30/2025
Yaheline

Masuk usia eksekutif muda itu rasanya kayak lagi naik roller coaster, target naik, tanggung jawab nambah, ego ikut keangkat. Di fase ini, banyak orang fokus ngejar performa, tapi lupa satu hal yang justru menentukan keberlanjutan karier, yaitu cara memperlakukan orang lain. Karena di dunia profesional, melukai dan mengecewakan perasaan orang itu sering kali nggak langsung kelihatan dampaknya. Tapi begitu datang, efeknya bisa jadi bumerang yang telak.

Contoh konkretnya gampang ditemuin. Misalnya, kamu jadi leader yang suka bicara pedas di depan umum demi “disiplin”. Rekan kerja diem, iya. Target bisa tercapai, iya. Tapi siapa yang mau loyal sama atasan yang bikin mental kerja turun setiap hari? Atau saat kamu memotong ide rekan kerja di meeting dengan nada meremehkan. Sekilas kamu terlihat dominan, padahal pelan-pelan kamu sedang membunuh kepercayaan dan rasa aman dalam tim.


Di dunia bisnis, kekecewaan juga sering muncul dari janji yang nggak ditepati. Mulai dari telat bayar vendor, ubah kesepakatan sepihak, sampai meninggalkan partner di saat genting. Mungkin secara jangka pendek kamu untung. Tapi reputasi itu punya ingatan panjang. Suatu hari, saat kamu butuh dukungan, bisa jadi pintu-pintu itu sudah tertutup rapat.
Kepercayaan itu seperti kaca, sekali retak tetap akan menyisakan bekas meski sudah diperbaiki.
Bumerang terbesarnya bukan cuma soal relasi kerja yang rusak, tapi juga soal citra diri. Di usia muda, karier bisa melejit cepat. Namun tanpa empati, banyak eksekutif muda yang akhirnya terjebak dalam kesepian di puncak—punya jabatan, tapi miskin kepercayaan dari sekitar.

Menurut pakar kepemimpinan dunia, Daniel Goleman, kecerdasan emosional adalah fondasi penting kepemimpinan modern. Dalam bukunya Emotional Intelligence, ia menegaskan bahwa kemampuan mengelola emosi diri dan memahami perasaan orang lain jauh lebih menentukan kesuksesan jangka panjang dibanding sekadar kecerdasan intelektual.


Intinya sederhana kok, tegas itu memang perlu, ambisi itu wajar. Tapi kalau cara kita meraih sukses harus melukai banyak orang, cepat atau lambat, itu akan balik menghantam reputasi, kepercayaan, bahkan karier kita sendiri. Sukses sejati bukan cuma soal jabatan yang terus naik, tapi soal apakah kita punya hati yang utuh dan tangan yang bersih baik sebelum apalagi saat sampai di puncak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar