Recent Posts

Tetap Menyala di Tengah Angin Kencang

2/14/2026
Yaheline

Menjadi baik itu kadang terasa seperti memilih jalan sunyi. Ketika kamu memutuskan jujur saat yang lain kompromi, tetap belajar saat yang lain terlena, atau konsisten saat yang lain berubah arah, akan selalu ada suara yang mencoba menggoyahkan. Tapi bukankah api justru terlihat jelas ketika malam paling gelap? Maka, tetaplah menyala di tengah angin kencang, menjadi cahaya kecil yang tak sibuk melawan badai, tetapi cukup setia pada nyalanya sendiri.
Tidak semua yang berisik itu benar, dan tidak semua yang sunyi itu lemah.
Hidup dalam nilai yang kamu yakini ibarat akar yang menembus tanah berbatu. Ia tak terlihat, tak dipuji, tetapi justru di sanalah kekuatannya tumbuh. Kadang kamu juga perlu menjadi karang di tengah gelombang, bukan untuk menantang ombak, melainkan untuk tetap utuh saat ombak datang dan pergi. Penentangan itu seperti angin, tak bisa dihentikan, tapi bisa dihadapi dengan layar yang tepat. Angin yang sama yang mencoba menjatuhkan, justru bisa mengantarkan kapal sampai tujuan jika kamu tahu cara mengarahkannya.


Sering kali, yang menentang bukan karena kamu salah, melainkan karena pilihanmu adalah cermin yang memantulkan keberanian yang belum mereka miliki. Cahaya memang tak pernah memusuhi gelap, tapi keberadaannya membuat gelap tak lagi berkuasa. Maka jadilah langkah sunyi yang tak tergoyahkan, melangkah tanpa perlu sorak, bertumbuh tanpa perlu tepuk tangan. Karena karakter tidak dibangun oleh pujian, melainkan oleh konsistensi dalam kesendirian.

Hidup yang baik bukan berarti hidup tanpa gesekan. Justru gesekan itulah yang menghaluskan sisi-sisi tajam dalam dirimu. Seperti emas yang dimurnikan api, kualitas diri terbentuk lewat ujian dan kritik. Dan ketika kamu tetap teguh, kamu sedang belajar satu hal penting: bahwa nilai lebih berharga daripada validasi.


Dalam bukunya, Man's Search for Meaning, Viktor Frankl menegaskan bahwa manusia yang memiliki makna akan mampu bertahan dalam tekanan sebesar apa pun. Menurutnya, yang menentukan kualitas hidup bukan situasinya, tetapi sikap kita terhadap situasi itu. 

Jadi saat kamu memilih tetap menyala, tetap berakar, dan tetap menjadi karang, kamu sedang membangun makna yang tak mudah dipatahkan oleh angin mana pun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar