Belajar pakai BaaS seperti Firebase membuat pemula paham alur aplikasi modern tanpa tenggelam di teknis server.Firebase pertama kali dibuat pada tahun 2011 oleh Andrew Lee dan James Tamplin sebagai layanan realtime database. Platform ini kemudian diakuisisi oleh Google pada tahun 2014 dan berkembang pesat menjadi Backend as a Service (BaaS). Sejak saat itu, Firebase tidak hanya fokus pada database, tetapi juga menyediakan berbagai layanan pendukung pengembangan aplikasi yang terintegrasi dalam satu ekosistem.
Fungsi utama Firebase sangat beragam. Firebase Authentication memudahkan pembuatan sistem login, Firestore dan Realtime Database digunakan untuk menyimpan serta menyinkronkan data, Cloud Storage untuk menyimpan file, dan Firebase Analytics untuk menganalisis perilaku pengguna. Manfaatnya bagi developer pemula sangat terasa karena proses pengembangan jadi lebih cepat, efisien, dan fokus ke fitur inti aplikasi.
Kelebihan Firebase terletak pada kemudahan implementasi, dokumentasi yang jelas, serta integrasi yang kuat dengan Android, iOS, dan web. Firebase juga cocok untuk proyek belajar, tugas sekolah, hingga startup tahap awal. Namun, Firebase tetap punya kekurangan. Struktur database NoSQL bisa membingungkan di awal, biaya layanan dapat meningkat jika pengguna aplikasi banyak, dan fleksibilitas query masih kalah dibanding database SQL konvensional.
Menurut Martin Kleppmann, seorang pakar sistem terdistribusi, pemahaman tentang data dan backend sangat penting bagi developer masa kini. Dalam bukunya Designing Data-Intensive Applications, ia menjelaskan bahwa penggunaan platform seperti Firebase membantu pemula memahami konsep data, konsistensi, dan sinkronisasi secara praktis.
That's why, mempelajari Firebase adalah langkah strategis bagi developer pemula yang ingin berkembang secara bertahap dan relevan dengan kebutuhan industri digital

Tidak ada komentar:
Posting Komentar