Recent Posts

Menjadi Wi-Fi Kebaikan di Dunia Nyata

2/16/2026
Yaheline

Kadang kita baru sadar arti jadi manusia saat melihat ada orang yang kehadirannya terasa menenangkan, berasa adem berada di sekitarnya, seperti pohon di pinggir jalan yang diam-diam memberi teduh tanpa pernah diminta. 

Di zaman sekarang, banyak orang sibuk mengejar terlihat sukses, tapi lupa jadi berarti. Padahal, manfaat itu bukan soal seberapa viral kita, melainkan seberapa nyata dampak kita. Bermartabat juga bukan soal gengsi, tapi tentang cara kita berdiri saat hidup mencoba menjatuhkan. Manusia yang utuh bukan yang paling banyak dipuji, tapi yang paling konsisten menebar arti.

Try not to become a person of success, but rather try to become a person of value.

— Albert Einstein

Di kehidupan remaja, manfaat itu bisa sesederhana jadi teman yang nggak ikut menertawakan, tapi justru menguatkan. Seperti charger di saat baterai sosial orang lain hampir habis. Bermartabat pun kadang muncul dari hal kecil, berani jujur saat semua orang memilih aman, atau tetap sopan walau sedang kesal. Analogi gampangnya, manfaat itu seperti Wi-Fi gratis di tempat umum, semua orang senang kehadiranmu. Sedangkan martabat itu seperti password-nya: tak semua orang bisa pegang, karena dijaga oleh karakter.


Dunia digital memberi ruang besar untuk berbagi kebaikan, tapi juga menantang kita untuk menjaga ketulusan. Sebab manusia bermartabat bukan hanya yang terlihat berbuat baik, melainkan yang konsisten melakukannya, bahkan saat tak ada yang melihat. Seperti akar yang tidak terlihat tapi menopang pohon tetap berdiri saat badai. Menjadi berarti bukan tentang sorotan, tapi tentang konsistensi. Bahkan lilin kecil pun tetap berguna di ruangan gelap, ia tidak perlu jadi matahari untuk punya nilai.

Menurut Aristoteles dalam karyanya Nicomachean Ethics, tujuan hidup manusia bukan sekadar hidup, tetapi mencapai eudaimonia — kebahagiaan yang lahir dari kebajikan dan tindakan yang memberi kebaikan bagi sesama. Ini menunjukkan bahwa martabat dan manfaat bukan dua hal terpisah, melainkan tumbuh dari karakter yang dilatih terus-menerus lewat tindakan nyata.


Finally, menjadi manusia yang bermanfaat dan bermartabat bukan target sekali jadi, tapi perjalanan panjang. Ia dibangun dari kebiasaan kecil: niat baik, sikap tulus, dan keberanian menjaga nilai saat sendirian. Kalau hidup ini panggung, maka manfaat adalah peran kita, dan martabat adalah cara kita memainkannya. Bukan soal jadi tokoh utama, tapi soal apakah kehadiran kita membuat cerita hidup orang lain sedikit lebih terang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar