“Sebenernya guru itu penting banget, tapi kadang juga bikin mental nge-down,” kata salah satu siswi sambil mainin ponselnya. Obrolan siang itu, saat jam istirahat, berlangsung santai di sela tawa dan cerita tugas menumpuk. Dari satu cerita ke cerita lain, saya mulai sadar, pandangan remaja soal guru sekarang nggak sesederhana dulu. Di era digital yang serba cepat ini, guru bukan lagi cuma sosok di depan kelas, tapi figur yang benar-benar berpengaruh ke perasaan dan masa depan mereka.
Banyak dari mereka cerita tentang guru yang nggak cuma ngajar, tapi juga mau dengerin. Ada yang sampai bilang:
Nilai gue pernah jelek, tapi guru gue nggak marah. Malah diajak ngobrol baik-baik. Dari situ gue jadi pengen buktiin diri.Buat mereka, dihargai itu rasanya jauh lebih penting daripada dimarahi terus-terusan. Guru yang sabar, nggak gampang nge-judge, dan mau memahami kondisi murid dianggap sebagai penyemangat di tengah tekanan sekolah dan sosial media.
Tapi nggak semua cerita manis. Ada juga siswi yang curhat tentang guru yang terlalu kaku, terlalu fokus nilai, dan jarang mau dengar alasan. “Kadang kita capek, bukan mau malas,” kata yang lain pelan. Mereka hidup di dunia yang serba cepat, penuh perbandingan, dan tuntutan. Ketika guru hanya melihat angka tanpa melihat proses, beberapa dari mereka merasa kecil dan nggak dianggap.
Hampir semua yang kami obrolkan sepakat pada satu hal: ucapan guru itu dampaknya panjang. Satu kalimat bisa bikin murid percaya diri seharian, bahkan bertahun-tahun. Tapi satu kalimat juga bisa bikin mereka ragu pada diri sendiri. Remaja sekarang nggak cuma butuh guru yang pintar mengajar, tapi juga yang peka, mau belajar bareng, dan sadar kalau murid bukan sekadar “penerima materi”.
Baca juga: Pamungkas Bali, Sajian Ikan Goreng dan Sup Kepala Ikan Warung Be Sanur yang Tak Terlupakan
Menariknya, apa yang disampaikan remaja ini sejalan dengan pendapat John Hattie dalam bukunya Visible Learning. Ia menyebutkan bahwa hubungan positif antara guru dan murid punya pengaruh besar terhadap keberhasilan belajar. Bukan cuma soal metode, tapi soal kepercayaan, dukungan, dan cara guru memanusiakan siswanya.
Dari curhat remaja hari ini, satu hal jadi jelas: guru yang “hadir” secara manusiawi akan selalu diingat, jauh lebih lama dari sekadar pelajaran di papan tulis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar