Di ruang keluarga yang masih bau rendang dan ketupat, dua makhluk remaja—Raffi dan Fathan—lagi bersiap buat momen sakral yang selalu berubah jadi ajang stand-up comedy: maaf-maafan Idul Fitri. Bukannya khidmat, mereka malah kayak dua MC dadakan yang lupa skrip.
Kadang justru lewat tawa, hati lebih gampang terbukaRaffi mulai duluan, berdiri agak kaku tapi mukanya sok bijak. “Than, gue minta maaf ya… kalau selama ini gue lebih sering nyebelin daripada berguna. Ibarat WiFi, sinyal gue kuat tapi isinya zonk.” Fathan ngakak, hampir nyembur sirup. Tapi dia balas dengan gaya nggak kalah absurd, “Gue juga minta maaf, Bang. Kalau gue sering jadi notifikasi yang muncul terus tapi nggak penting. Maafin ya, bang.”
Mereka saling salaman, tapi bukannya haru, malah adu kuat genggaman kayak lagi lomba panco. Bundanya geleng-geleng, papahnya cuma senyum sambil ngopi, menikmati episode tahunan ini.
Giliran ke orang tua, suasana harusnya lebih serius—harusnya. Raffi tarik napas dalam, lalu ngomong, “Pah, Bun, mohon maaf lahir batin. Maafin Raffi yang sering kayak aplikasi nge-lag—disuruh sekali, responnya nanti-nanti.” Fathan nyusul, “Aku juga minta maaf ya, Bun, Pah. Kalau selama ini lebih sering update status daripada update sikap.”
Bundanya akhirnya ketawa juga. “Kalian ini, minta maaf kok kayak bikin konten,” katanya. Papah menimpali santai, “Yang penting bukan cuma kata-katanya, tapi setelah ini jangan diulang.”
Mereka berdua langsung kompak jawab, “Siap, Pah! Versi 2.0, update lebih baik!”
Di balik semua kekonyolan itu, ada hangat yang nggak bisa dibikin-bikin. Momen sederhana, penuh tawa, tapi tetap nyampe ke hati. Karena kadang, maaf nggak harus selalu serius—asal tulus, bahkan gaya receh pun bisa jadi jembatan buat saling ngerti.
Mereka berdua langsung kompak jawab, “Siap, Pah! Versi 2.0, update lebih baik!”
Di balik semua kekonyolan itu, ada hangat yang nggak bisa dibikin-bikin. Momen sederhana, penuh tawa, tapi tetap nyampe ke hati. Karena kadang, maaf nggak harus selalu serius—asal tulus, bahkan gaya receh pun bisa jadi jembatan buat saling ngerti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar