Pagi Idul Fitri tahun ini di markas besar kami nggak kayak sinetron religius yang slow motion dan penuh air mata. Begitu Raffi dan Fathan turun dari kamar, atmosfernya lebih mirip lobby game sebelum war. Mereka nggak langsung salaman, tapi loading dulu di depan ruang tamu, nyari moment yang pas kayak influencer cari angle FYP.
Raffi, si abang yang paling jago bikin alasan, maju duluan. "Assalamualaikum, Pah, Bun. Mohon maaf lahir batin. Kalau ada salah, anggap aja bug sistem yang bakal di-patch update berikutnya." Gayanya serius tapi matanya kedip-kedip nahan tawa.
Fathan, si adek yang nggak mau kalah cringe, langsung nyambung sambil benerin kancing baju koko yang salah masuk, tidak sejajar alias miring. "Iya, Bun. Maafin Fathan kalau sering minta transfer dadakan kayak ikut flash sale 9.9. Janji deh, besok udah jadi anak valid no debat, nggak banyak ngeles."
Papah cuma geleng-geleng sambil nyengir lebar, tangan siap bersalaman. "Ya udah, maaf diterima. Tapi syaratnya, jangan minta top-up dulu seminggu ini. Anggap itu punishment ringan."
Bunda ketawa sampai bahu naik turun, peluk mereka bergantian. "Maafin Bunda juga ya, kalau kadang ngomelnya kecepatan kayak download file berat saat kuota sekarat. Sabarin ya, Nak. Bunda kan cuma update software parenting."
Proses maaf-maafan berlanjut antar abang-adek. Raffi nyodorin tangan, tapi Fathan malah high-five. "Maafin abang kalau sering minjem charger tanpa izin. Itu hak cipta lo, sih."
"Yaelah, bang. Maafin juga kalau gue sering ngelag kalau disuruh beli cemilan," balas Fathan santai.
Maaf ya kalau selama ini gue banyak 'ajaibnya'. Yang penting hati bersih, biar mabarnya makin asik lagi.Suasana cair. Nggak ada drama Korea, cuma ada tawa yang pecah kayak gorengan panas. Intinya, meski gaya mereka aneh bin ajaib, penuh analogi digital dan alasan receh, esensi maaf-maafan tetep sampai ke hati. Mungkin memang gitu caranya Gen Z memaknai kemenangan: nggak perlu kaku, yang penting connect lagi kayak WiFi penuh sinyal.
Setelah operasi maaf-maafan selesai, mereka langsung gaspol nyerbu ketupat rendang. Raffi ambil piring terbesar, Fathan nggak mau kalah. Karena maaf udah urusan hati, kalau lapar itu urusan perut yang nggak bisa nunggu buffering.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar