Lebaran itu kadang terasa kayak lagi milih mode di HP—antara “Outdoor Party Mode” atau “Silent Productivity Mode.” Tapi lucunya, kita sering nggak sadar lagi di mode yang mana, tahu-tahu sudah terjebak di antara suara tawa keluarga dan notifikasi kerjaan yang belum selesai.
Nggak ada yang lebih benar, karena keduanya cuma beda cara ngecasAda tipe orang yang begitu takbir berkumandang, langsung “on.” Dari satu rumah ke rumah lain, dari opor ke rendang, dari salaman ke sesi foto yang ujung-ujungnya masuk story. Buat dia, Lebaran itu hidup kalau ramai—kayak pasar malam yang lampunya nggak pernah padam. Energinya justru naik tiap ketemu orang baru atau ketawa bareng sepupu yang setahun sekali muncul. Rasanya seperti jadi powerbank berjalan—semakin banyak interaksi, semakin penuh baterainya. Tapi ya itu, kadang pulang-pulang badan remuk, dompet ikutan “lebaran” (alias makin tipis), dan obrolan basa-basi mulai terasa seperti lagu yang diputar berulang.
Di sisi lain, ada juga yang justru menikmati jeda. Bukan karena anti-sosial, tapi karena baginya, rumah adalah tempat paling jujur untuk kembali. Sambil nyeruput kopi hangat, dia bisa tenggelam dalam hobi, atau diam-diam menuntaskan kerjaan yang sempat tertunda. Lebaran baginya bukan soal ke mana pergi, tapi ke mana hati kembali. Analogi paling pas mungkin seperti update sistem—nggak kelihatan heboh, tapi penting buat kelangsungan performa. Meski begitu, kadang ada rasa “ketinggalan cerita,” apalagi saat grup keluarga mulai ramai kirim foto kebersamaan.
Kalau dipikir-pikir, dua karakter ini sebenarnya cuma beda cara “ngecas.” Carl Gustav Jung pernah ngomong soal ini dalam Psychological Types—tentang bagaimana sebagian orang mendapatkan energi dari luar (ekstrovert), sementara yang lain justru menemukannya dari dalam (introvert). Jadi kalau ada yang kelihatan betah keliling, dan ada yang lebih memilih diam, itu bukan soal siapa yang lebih benar.
Menariknya lagi, Susan Cain lewat bukunya Quiet: The Power of Introverts in a World That Can't Stop Talking mengingatkan bahwa dunia sering terlalu berisik untuk menghargai yang sunyi. Padahal, dalam diam itu sering ada ruang untuk benar-benar pulih—sesuatu yang kadang nggak kita dapatkan di tengah keramaian.
Jadi mungkin Lebaran memang bukan soal harus ke mana atau harus seperti apa. Kadang kita butuh riuh untuk merasa hidup, kadang kita butuh sunyi untuk merasa utuh. Dan di antara keduanya, kita cuma sedang belajar—menemukan cara terbaik untuk pulang, bukan hanya ke rumah, tapi juga ke diri sendiri.
Selamat lebaran! Jalani sesuai gayanya masing-masing. Terpenting, mampukah mempertahankan segala kebaikan saat Ramadhan?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar