Perpisahan dengan Kota Nabi
Pagi itu langit Madinah membentang biru bersih di atas menara-menara Masjid Nabawi, seolah ingin memberi salam perpisahan yang paling lembut. Sekitar pukul 09.00, aku dan my sweety sudah menyiapkan koper di depan kamar Odst Al Madinah Hotel. Ada perasaan yang berbeda hari itu. Kami akan meninggalkan Kota Nabi menuju Makkah, tempat berdirinya Ka’bah yang selama ini menjadi arah setiap sujud kami.“Sedih juga harus meninggalkan Madinah,” bisik my sweety.
Aku tersenyum. “Iya, tetapi perjalanan kita menuju pertemuan yang sudah lama kita rindukan.”
Sebelum berangkat, kami sempat menunaikan sholat Dzuhur di Masjid Nabawi, yang dijamak taqdim dengan Ashar. Setelah itu jamaah kembali ke hotel untuk makan siang, dan tepat pukul 14.00 rombongan Alhijaz Tour & Travel meninggalkan Madinah. Kami melangkah keluar dengan hati yang tertinggal sedikit di kota itu, dan membawa doa agar kelak diberi kesempatan kembali.
Bir Ali, Gerbang Niat
Dengan pakaian ihram, kami menaiki bus menuju Makkah, menempuh perjalanan sekitar enam jam melintasi bentang alam Arab Saudi. Di dalam bus, pemandangan terasa begitu hening dan sederhana: pakaian putih menyamakan semua orang, tanpa jabatan, tanpa merek, hanya hamba yang hendak menghadap Tuhannya.Persinggahan penting kami adalah Masjid Bir Ali, dikenal pula sebagai Dzulhulaifah atau Asy-Syajarah. Di sinilah miqat bagi jamaah yang berangkat dari arah Madinah, dan di tempat yang sama pula Rasulullah ﷺ berihram ketika berangkat menuju Makkah. Di sinilah kami memulai niat umroh dan memasuki keadaan ihram. Lirih, lalu kian mantap, talbiyah mulai dilantunkan: Labbaikallāhumma labbaik… Rasanya seperti menjawab sebuah panggilan yang telah lama menunggu jawaban.
![]() |
| Masjid Bir Ali |
“Mulai sekarang, kita harus lebih menjaga ucapan dan perbuatan,” kataku.
My sweety mengangguk. “Semoga Allah memudahkan ibadah kita.”
Senja di Jalan Menuju Makkah
Bus kembali melaju. Dari jendela, perbukitan berbatu dan hamparan gurun silih berganti dalam cahaya senja, dengan bayang-bayang panjang yang merayap pelan di atas tanah yang tandus. Pemandangan yang sederhana itu justru mengingatkanku pada perjalanan hijrah Rasulullah ﷺ, tentang kesabaran, pengorbanan, dan keyakinan kepada Allah. Beliau menempuh jalur yang jauh lebih berat, tanpa kenyamanan dan penuh ancaman. Sementara kami melintasi jalan yang sama dengan nyaman, tentu tak sepantasnya kami lupa betapa mahal harga jalan ini.Ketika Ka’bah Menyapa
Sekitar pukul 20.30, kami tiba di Makkah dan melakukan check-in di Almassa Grand Hotel. Setelah makan malam, rombongan berkumpul di lobi untuk menuju Masjidil Haram. Kami berjalan bersama dalam arus jamaah yang kian padat, semuanya berpakaian ihram, semuanya bergerak ke satu arah, hingga jalanan sempit itu terbuka menjadi pelataran luas.Ketika Ka’bah pertama kali terlihat, langkahku seolah terhenti. Bangunan suci berselubung kiswah hitam bersulam kaligrafi emas itu berdiri megah di tengah lautan manusia berpakaian ihram.
“MasyaAllah, akhirnya kita sampai,” ucap my sweety lirih.
Mataku berkaca-kaca. Selama puluhan tahun kami menghadap kiblat dalam sholat. Malam ini, Allah mengizinkan kami berdiri di hadapannya.
Seusai menunaikan sholat Maghrib dan Isya secara jamak takhir, tibalah saat yang paling kami nantikan.
Tawaf, Sa’i, dan Tahallul
Kami memulai tawaf, mengelilingi Ka’bah tujuh putaran dari garis sejajar Hajar Aswad. Ka’bah selalu berada di sisi kiri kami, dan di sekelilingnya ribuan jamaah dari berbagai bangsa bergerak dalam satu irama, seperti arus sungai yang bermuara pada satu pusat. Warna kulit dan bahasa mereka berbeda, tetapi doa mereka bermuara ke satu tujuan. Di sela putaran, di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, bibir kami melafalkan doa sapu jagat: Rabbanā ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-ākhirati ḥasanah, wa qinā ‘adzāban-nār (QS. Al-Baqarah: 201). Di tengah semua itu, aku merasakan betapa kecilnya manusia di hadapan kebesaran Allah.Rangkaian berlanjut dengan sa’i, tujuh perjalanan antara Bukit Safa dan Marwah, mengenang perjuangan Siti Hajar mencari air bagi putranya, Ismail. Dengan kecemasan seorang ibu, ia berlari kecil dari satu bukit ke bukit lain, hingga Allah memancarkan air zamzam di dekat kaki Ismail. Allah pun menjadikan Safa dan Marwah sebagian dari syiar-Nya (QS. Al-Baqarah: 158). Setiap langkah mengajarkan bahwa ikhtiar dan tawakal harus berjalan beriringan.
Akhirnya, tahallul dengan memotong rambut menandai selesainya rangkaian umroh kami. Niat ihram, tawaf, sa’i, dan tahallul telah kami laksanakan secara tertib. Kami saling menatap diliputi rasa campur aduk, haru, bahagia dan penuh syukur.
“Alhamdulillah, kita sudah menunaikannya.”
“Iya, semoga Allah menerima ibadah kita,” jawabnya.
Malam itu, di bawah cahaya Masjidil Haram, kami memahami bahwa umroh bukan sekadar perjalanan menuju Baitullah. Ia adalah perjalanan pulang menuju kesadaran diri: belajar merendahkan hati, memperbaiki akhlak, dan memperteguh iman agar setiap langkah kehidupan setelahnya semakin dekat kepada Allah.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar