Recent Posts

Ketika Duka Dijadikan Citra

12/04/2025
Yaheline

Musibah selalu datang tanpa undangan, menyisakan luka, kehilangan, dan ketidakpastian bagi mereka yang terdampak. Namun di tengah duka yang seharusnya mengundang empati tulus, sering kali muncul pemandangan lain yang mengusik nurani: pejabat hadir bukan semata untuk melayani, melainkan juga menampilkan diri. Kamera disiapkan, gestur diatur, bantuan diserahkan dengan senyum penuh pose. Bencana berubah menjadi panggung, dan penderitaan rakyat terasa seperti latar belakang.


Fenomena ini muncul bukan tanpa sebab. Pertama, kuatnya budaya politik simbolik membuat kehadiran visual dianggap lebih penting daripada kerja substansial. Kedua, tekanan popularitas di era media sosial menjadikan setiap peristiwa sebagai peluang meningkatkan citra diri. Ketiga, lemahnya pengawasan publik terhadap kualitas kebijakan mendorong pejabat memilih jalan pintas: tampil peduli daripada bekerja sistematis. Akibatnya, empati pun berubah menjadi komoditas, sementara solusi jangka panjang kerap terpinggirkan.
Ketika penderitaan dijadikan alat promosi, yang hancur bukan hanya rumah warga, tetapi juga kepercayaan publik.
Dampak dari sikap pencitraan ini tidaklah sepele. Kepercayaan masyarakat terhadap pejabat perlahan terkikis karena kepedulian terasa artifisial. Bantuan yang seharusnya berbasis kebutuhan berubah menjadi sekadar simbol seremonial. Lebih jauh, kebijakan mitigasi bencana sering terlambat dieksekusi karena energi habis untuk mengatur tampilan di depan kamera. Di sisi lain, korban bencana pun berisiko mengalami luka psikologis baru: mereka merasa dieksploitasi dalam kondisi paling rapuh.

Pencitraan juga menciptakan standar keliru dalam kepemimpinan. Seolah-olah pemimpin yang baik adalah mereka yang paling sering tampil di layar, bukan yang paling efektif bekerja di balik layar. Jika dibiarkan, pola ini akan melanggengkan politik dangkal, di mana sentuhan emosional sesaat mengalahkan perencanaan rasional dan kebijakan berkelanjutan. Bencana yang seharusnya menjadi momentum evaluasi justru berubah menjadi etalase kekuasaan.


Dalam perspektif sosiologis, Erving Goffman menjelaskan melalui konsep dramaturgi sosial bahwa manusia kerap memainkan peran di “panggung depan” untuk membentuk kesan tertentu. Ketika konsep ini dibawa ke ruang kekuasaan dan dilekatkan pada tragedi kemanusiaan, yang muncul adalah politik pertunjukan yang miskin substansi. 

Melalui bukunya The Presentation of Self in Everyday Life, Goffman mengingatkan bahwa terlalu larut dalam peran dapat membuat kita kehilangan keaslian. Pesannya jelas: di tengah bencana, yang dibutuhkan bukan aktor terbaik, melainkan pemimpin yang sungguh bekerja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar