Recent Posts

Kapal Bocor, Nahkoda Baru yang Bertanggungjawab

4/11/2026
Yaheline

Perusahaan itu dulu seperti kapal besar—megah, ramai, dan penuh harapan. Tapi pelan-pelan, lambungnya retak karena utang yang numpuk kayak notifikasi pinjol yang nggak pernah dibuka. Dari luar masih kelihatan oke, tapi di dalam? Air sudah masuk ke mana-mana. Sampai akhirnya, saat kapal hampir tenggelam, nahkoda lama “turun”, diganti dengan nahkoda baru. Ironisnya, bukan cuma dia yang harus nanggung, tapi juga para pegawai yang bahkan cuma jadi penumpang setia di kapal itu.
Kadang yang paling berat bukan salah yang kita buat, tapi tanggung jawab atas kesalahan yang bukan milik kita.
Nahkoda baru datang seperti pemain cadangan yang tiba-tiba disuruh eksekusi penalti di detik terakhir. Semua mata tertuju padanya, seolah dia yang bikin masalah dari awal. Para pegawai? Ikut terseret. Mereka kerja dengan cemas, seperti gadis hamil yang bingung siapa yang harus bertanggung jawab atas kondisi yang dia hadapi—sendiri, penuh tekanan, dan dihantui masa depan yang nggak jelas. Padahal, keputusan-keputusan fatal dibuat jauh sebelum mereka sadar ada bom waktu di dalam sistem.


Situasi ini sering bikin pertanyaan liar muncul. Kalau perusahaan ambruk, apakah masyarakat sekitar juga harus ikut menanggung? Misalnya lewat empati berlebihan, bantuan, atau bahkan tekanan sosial untuk “memaklumi”? Jawabannya nggak sesederhana itu. Masyarakat memang bisa berperan sebagai support system, tapi bukan berarti harus ikut memikul beban kesalahan manajerial. Analogi gampangnya, kalau ada restoran gagal karena manajemennya amburadul, pelanggan nggak wajib ikut bayar utangnya, kan?

Masalah utama tetap ada di tata kelola. Ketika transparansi diabaikan, kontrol keuangan lemah, dan keputusan diambil tanpa perhitungan, kehancuran itu cuma soal waktu. Mengganti nahkoda di akhir cerita seringkali cuma jadi simbol “tanggung jawab”, bukan solusi nyata. Yang dibutuhkan itu pembenahan sistem, bukan sekadar ganti wajah di anjungan nahkoda.


Menurut Jim Collins dalam buku Good to Great, perusahaan yang bertahan bukan yang bebas dari masalah, tapi yang punya disiplin dalam manajemen dan kejujuran menghadapi realita. Sementara itu, Peter Drucker dalam Management: Tasks, Responsibilities, Practices menekankan bahwa tanggung jawab manajemen tidak bisa dialihkan begitu saja—karena setiap keputusan punya konsekuensi jangka panjang.

Finally, saat sebuah perusahaan hampir collapse, jangan buru-buru menyalahkan yang terlihat di permukaan. Kadang, masalahnya sudah ditanam lama, hanya saja baru sekarang dipanen.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar