Langkahmu terlihat mantap, sementara hatiku terasa semakin berat. Siapa sangka, anak laki-laki yang dulu selalu kugandeng menyeberang jalan, kini berdiri tegak pamit membawa mimpi besarnya. Fairuz Raffi Elmatin, putra tercintaku, kini memulai babak baru sebagai mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung. Sebagai seorang papah, dadaku dipenuhi rasa bangga yang sulit kulukiskan. Ternyata, anak kecil yang dulu selalu memanggilku saat takut kini telah berani melangkah sendiri mengejar masa depan.
Keberangkatan ini terasa semakin istimewa karena Raffi harus menuju kampus lebih awal sebelum mahasiswa baru lainnya. Ia harus segera mengikuti latihan karena terpilih menjadi Pasjaru'26 (Pasukan Ucap Janji Mahasiswa Baru), sebuah amanah yang tentu membuat kami sekeluarga bangga.
Melepas bukan berarti berhenti menyayangi. Melepas adalah bentuk kasih sayang yang paling dewasa.
Sekalian mengantarkan motor ADV kesayangannya, yang akan menemaninya beraktivitas dan berangkat kuliah setiap hari, keluarga pun menjadikan perjalanan dari Depok menuju Bandung sebagai momen Touring tipis-tipis bersama keluarga; Om Wahyu, Bunda dan ade Fathan.
Namun, bolehkah aku jujur? Di balik rasa bangga itu, ada kecemasan yang diam-diam terus mengikuti. Aku bertanya dalam hati, apakah nanti kamu akan makan tepat waktu? Apakah kamu akan cukup istirahat ketika tugas kuliah mulai menumpuk? Siapa yang akan mengingatkanmu sholat, mencuci pakaian, menjaga kesehatan, atau sekadar berkata, "Jangan lupa makan, ya." Aku tahu semua orang tua pernah berada di titik ini, tetapi tetap saja rasa khawatir itu sulit diusir.
Kini, rumah yang biasanya terasa hidup mendadak menjadi begitu sunyi. Tak ada lagi suaramu yang memanggil dari kamar, tak ada lagi deep talk saat kesedihan dan kebahagian menyentuh hatimu di larut malam, atau langkah kakimu yang terdengar di anak tangga. Baru kusadari, rumah bukan hanya soal bangunan, tetapi juga tentang kehadiran orang-orang yang menghidupkannya. Kepergianmu untuk belajar membuat rumah ini seakan kehilangan satu cahaya.
Baca juga: Alhamdulillah, Raffi Sudah Dikhitan
Di tengah keheningan itu, aku juga sempat bertanya kepada diriku sendiri. Sudahkah aku menjadi papah yang cukup baik? Sudahkah aku membekalimu dengan nilai, doa, dan pelajaran hidup yang cukup untuk menghadapi dunia yang jauh lebih luas? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar, meski aku tahu tidak ada orang tua yang pernah merasa benar-benar selesai mendidik anaknya.
Karena itu, ketika berpamitan tadi, aku memilih tersenyum dalam pelukan. Bukan karena aku tidak sedih, tetapi karena aku tidak ingin air mataku menjadi beban bagi langkahmu. Biarlah kesedihan ini kusimpan sendiri. Tugasku sebagai papah bukan lagi menggenggam tanganmu setiap saat, melainkan mendoakanmu dari kejauhan.
Pergilah, Nak. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, jagalah dirimu baik-baik, dan jadilah pribadi yang membanggakan. Selamat menjalankan amanah sebagai Pasjaru'26 dan selamat menapaki kehidupan kampus. Ingatlah, sejauh apa pun langkahmu, rumah ini akan selalu menjadi tempatmu pulang, dan doa Papah akan selalu berjalan bersamamu di setiap langkah kehidupanmu.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar