Recent Posts

Di Antara Asap dan Kabut, Kami Belajar Bersyukur

8/16/2026
Yaheline

Pagi menggantungkan kabut tipis di perbukitan Dieng ketika kami tiba di Kawah Sikidang. Berada di ketinggian lebih dari 2.000 mdpl. Dari titik nol Dieng hanya berjarak sekitar 2,6 km dengan waktu tempuh 10 menit menggunakan kendaraan pribadi. Lokasinya juga sangat dekat (beberapa ratus meter) dari Kompleks Candi Arjuna dan Candi Bima.

Udara dingin menyentuh wajah, sementara dari kejauhan kepulan putih belerang perlahan naik dari bumi—seperti napas panjang alam yang tak pernah berhenti.

Baca juga:  Golden Sunrise Sikunir, Hadiah Terindah Usai Perjuangan 
 
Di hadapan kami terbentang lanskap vulkanik yang terasa asing sekaligus mempesona. Kolam lumpur bergolak dan sesekali meletup, sementara titik aktivitas kawah yang dapat berpindah-pindah mengingatkan pada gerak kidang—kijang yang melompat lincah. Di sekelilingnya, bukit-bukit hijau khas Dieng berdiri tenang, menciptakan kontras menakjubkan dengan putihnya kepulan gas vulkanik.

Namun pagi itu, perhatian Papah bukan hanya tertuju pada kawah.

Di sampingku ada my Sweety, dan dua putra remaja kami, Raffi dan Fathan. Kami meniti jembatan kayu yang panjang dan rapi, perlahan memasuki lanskap yang terasa seperti dunia lain. Setiap langkah seolah membawa kami semakin jauh dari rutinitas, sekaligus semakin dekat satu sama lain.
Di tempat di mana bumi melepas uap hangatnya, aku justru menemukan kehangatan yang sesungguhnya pada senyum mereka.
Papah tiba-tiba menyadari betapa sederhana, tetapi berharganya kesempatan seperti ini: berjalan bersama, melihat sesuatu yang baru, lalu saling berbagi kekaguman.

 
Perjalanan ternyata bukan sekadar berpindah tempat. Ia adalah cara kami belajar membaca semesta—mengenal bagaimana bumi bekerja, memahami lingkungan, mengenal budaya yang tumbuh di sekitarnya, sekaligus belajar bahwa alam tidak hanya untuk dikagumi, tetapi juga dihormati.

Di tengah kepulan putih dan hijaunya perbukitan, kami berhenti sejenak.


Ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan.
Hal-hal terbaik dan terindah di dunia tidak dapat dilihat atau disentuh, melainkan harus dirasakan dengan hati. — Helen Keller
Mungkin karena Tuhan masih memberi Papah kesempatan untuk menikmati hari seperti ini bersama mereka. Bersama keluarga. Bersama orang-orang yang membuat setiap perjalanan terasa memiliki makna.

Seputih asap yang menari di udara, kami membawa pulang satu pelajaran sederhana: semakin luas kami mengenal semesta, semakin luas pula rasa syukur yang tumbuh di dalam hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar